Rabu, 03 April 2019

Hari ke 7 Tantangan 10H Level1 Kelas Bunsay Batch 5

Komunikasi produktif

Partner : Syauqi

Menulis tantangan kali ini,  betul-betul menantang. Karena ditulis di atas mobil dalam perjalanan pulang menuju Enreksd ng dengan  kondisi lelah dan ngantuk sepulang dari acara Tudang Sipulung. Soalnya kami berangkat dari Enrekang pukul 01.00 bersama suami dan 3 orang anak. Namun karena semangat membara ingin melakukan yang terbaik, maka kutulislah setoran kali ini.



Sesaat sebelum tidur, di malam keberangkatan kami ke Makassar, Syauqi kembali menguji kesabaranku. Kali ini dia baru minta makan disaat aku akan memejamkan mata, setelah lelah prepare persiapan ke Makassar. Padahal tadi sudah makan,  cuma sedikit karena ingin main dengan kakaknya.



"Oke,  kalau Oki mau makan, Umi temani.  Tapi lauknya yang ada saja, pilih tempe atau abon" kataku memberi pilihan

" Saya mau telur dadar" jawabnya merajuk

" Tidak, Umi capek" sahutku mencoba bersabar dan merebahkan badan.



Oki cuma diam, duduk bersandar di sisi ranjang. Sebenarnya aku tak tega, tapi Oki sudah beberapa kali seperti ini, minta makan saat aku sudah ingin tidur.  Beberapa kali sudah disampaikan, kalau mau makan, makan sama-sama, supaya tidak minta makan lagi menjelang tidur. Sepertinya saya punya PR lain terkait hal ini.



Mungkin dia menyadari kesalahannya, lalu dia memelukku dan minta maaf.  Alhamdulillah, dengan kesabaran, akhirnya malam itu kami lalui dengan baik, dan semoga Oki bisa paham.

Selasa, 02 April 2019

Hari ke 6 Tantangan 10H Level 1

Partner  : Syauqi/Oki
Point komunikasi produktif :

  • Katakan yang diinginkan bukan yang tidak diinginkan
  • Gunakan Intonasi rendah


Saat makan malam bersama, Syauqi terlihat menyisakan sedikit nasinya.

"Oki, kenapa nasinya tidak dihabiskan ?" tanyaku
" Ini ada lomboknya" jawabnya keras sedikit marah
"Oki, suaranya dipelankan nak !" ujarku ramah

Mendengar itu, Oki cuma diam dan bergegas minum lalu ke depan untuk bermain.
Beberapa kali saya ingatkan Oki di hari-hari sebelumnya agar bisa berbicara lebih lembut dan tidak marah-marah. Apalagi jika adiknya merebut mainannya, kadang Oki marah dan refleks memukul. Tapi setelah diingatkan dengan baik, Oki bisa lebih sabar menghadapi adiknya. Seperti kemarin malam saat kami bertiga bermain ular tangga muslim. Adiknya ngotot ingin memindahkan untanya ke kotak yang diinginkan, walau tak sesuai aturan main. Dengan suara ramah cenderung membujuk, Oki berkata kepada adiknya :

"Ika, untanya disini saja ya, lebih dekat"

Alhamdulillah, si adik menurut. Akupun menimpali :

"Nah kan, kalau adik dilembuti jadi nurut sama kakak". Oki hanya senyum.

Alhamdulillah, semoga makin konsisten menerapkan komunikasi produktif. Jadi lebih tenang menghadapi anak-anak.

Senin, 01 April 2019

Hari ke 5 Tantangan 10H Level 1

Partner : Syauqi ( Oki)
Point Komunikasi Produktif :
Fokus ke depan bukan masa lalu
Mengganti perintah dengan pilihan


Praktek 1
Seperti biasanya, menjelang tidur Syauqi dan Fikrah minta dibacakan buku. Namun sebelumnya karena berniat mempraktekkan komunikasi produktif , maka saya bertanya kepada Syauqi :

" Alhamdulillah, Syauqi sudah hafal banyak surah pendek, sudah gabung di club badminton anak, tapi ada yang masih membingungkan Umi, kenapa Syauqi masih sering marah-marah, ada yang bisa Umi bantu supaya Oki tak marah-marah lagi ?

" Saya marah-marah karena adek Ika suka memukul dan kak Idul suka mengejek saya " kata Oki
" Oh, itu ya sebabnya, terima kasih karena Umi sudah tau " kataku sambul tersenyum.

Beberapa hari ini kami memang sudah sepakat dan telah membicarakan dalam family forum terkait sanksi jika memukul, mencubit, menendang dan mengejek. Dan semuanya sepakat bahwa sanksinya adalah pengurangan waktu bemain gadget. Setiap anak punya jatah bermain gadget 15 menit perhari. Secara rinci sanksinya sebagai berikut :
Menendang, dikurangi 3 menit
Memukul/mencubit, dikurangi 2 menit
Mengejek, dikurangi 1 menit
Jika waktu telah berkurang, maka dapat mengembalikan waktu bermainnya dengan melakukan kebaikan apapun jenisnya. Namun waktu maksimal bermain gadget tetap 15 menit. Jadi semoga dengan penerapan aturan ini secara konsisten dan adil, dapat mengurangi frekuensi marahnya Syauqi.

Praktek 2

Pagi ini, Syauqi telat bangun, padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Sementara tiap pagi sebelum ke sekolah, dia punya jatah bermain gadget 15 menit. Biasanya dalam kondisi seperti ini, saya pasti akan memaksanya untuk segera mandi. Namun karena ingin menerapkan komunikasi produktif, maka akhirnya saya memberi pilihan :

" Oki, mau main HP dulu 10 menit lalu mandi, atau mandi dulu dan setelahnya bisa main HP 15 menit".
" Kenapa 10 menit ? Oki protes.
" Karena kalau oki main HP dulu nanti telat ke sekolah, soalnya Oki mandinya lama" kataku menjelaskan.

Akhirnya Oki setuju, walau terlihat berat, namun yang saya syukuri adalah dia tak ngambek di pagi hari. 

Minggu, 31 Maret 2019

Hari ke 4 Tantangan 10H Level 1

Partner : Syauqi
Point komunikasi produktif  : spesifik dalam memberikan pujian

Jelang istrahat malam, saya dan anak-anak punya kebiasaan membaca buku. Mereka bahkan akan menagih jika saya lupa.  Reading aloud istilah kerennya.  Dari kebiasaan ini, anak-anak jadi terlatih bercerita dengan mimik dan gerakan seperti yang kerap saya pertontonkan pada mereka.

Namun,  ada hal yang menarik semalam. Saat saya masuk ke kamar, di atas tempat tidur terlihat Syauqi memeluk adiknya sayang, sambil berkata "aku sayang adikku". Adiknya pun membalas dengan pelukan sayang.  Nyess, spontan saya memuji : "ummi senang sekali liat Oki dan fika seperti itu, saling menyayangi". Mereka berdua pun tersenyum manis mendengar pujian.

Bagi saya itu adalah pemandangan langka, namanya anak-anak, ada aja yang diperebutkan, pertengkaran dan teriakan yang kadang membuat kepala jadi pusing.  "Semoga Allah senantiasa membuat kami saling menyayangi", pintaku dalam hati.

Sabtu, 30 Maret 2019

Hari ke 3 Tantangan 10H Level 1

Point Komunikasi Produktif yang diterapkan :

  • Mengatakan yang diinginkan bukan yang tidak diinginkan 
  • Intonasi suara rendah dan bahasa yang ramah
  • KISS
Mengganti perintah dengan pilihan

Kasus 1
Syauqi seringkali  bermain ayunan adiknya. Jika disuruh pindah,  malah ngeyel. Kalimat yang sering  saya pakai untuk melarangnya adalah seperti ini :
"Oki, jangan main di ayunan adik, nanti rusak, karena Oki sudah besar". Sekali, tidak digubris, hingga kesekian kalinya dengan setengah marah saya berkata " Oki, punya telinga nda? Sudah berapa kali ummi bilang, pindah ! Jika sudah seperti ini,  maka dia akan pindah sambil cemberut  dan menggerutu tak jelas.
Namun hari ini, karena berniat menerapkan komprod padanya, maka ketika Syauqi selesai mandi, dan langsung duduk di ayunan, belum mengenakan pakaian, langsung saya katakan dengan nada ramah "Oki,  pakai bajunya dulu nak" Biasanya urusan mengenakan pakaian sendiri selepas mandi, adalah hal yang jarang dilakukamnya, selalu meminta saya untuk membantunya. Padahal sebenarnya dia sudab bisa. Sekali, tak digubris.  Saya ulangi dengan nada yang sama. Barulah dia menjawab tanpa nada marah,  "iya". Dan tanpa saya suruh keluar dari ayunan, dia langsung keluar karena saya berkata "Sekarang gilirannya Oki main HP,  15 menit, harus disiplin ya! "

Apa yang menarik? Yang menarik adalah bahwa saat Oki sedang berayun, dan belum mengenakan pakaian, biasanya saya akan berkata dengan kalimat panjang " Main ayunan lagi,  nanti rusak,  kalau rusak adik mau pakai apa? Pakai baju cepat,  nanti kalau tidak pakai baju digigit nyamuk". Namun karena saya hanya fokus pada satu hal yang saya inginkan yaitu agar dia segera memakai baju, maka saya ubah kalimatnya menjadi lebih pendek, dengan intonasi yang rendah, bahasa ramah, maka Oki lebih cepat melaksanakannya dan yang terpenting mengerjakannya tanpa rasa marah.

Kasus 2
Hari ini tepat pukul 08.00, Syauqi akan berlatih badminton. Sudah seminggu ini dia menantikannya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.40 menit, namun dia belum sarapan, karena menanti giliran bermain hp setelah adiknya. Jatahnya 15 menit.  Biasanya jika seperti ini, saya pasti akan mengambil keputusan sendiri, dengan menunda waktu main hp nya dan menyuruhnya segera sarapan agar tak terlambat. Namun bisa ditebak, dia pasti akan ngamuk karena merasa haknya dihapus. Akhirnya saya hampiri, dengan suara yang ramah saya memberi pilihan :"Oki, sekarang sudah jam 07.40,tinggal 20 menit lagi abah akan antar Oki berlatih badminton. Mau pilih mana, main HP dulu atau sarapan dulu ? Kalau mau main HP dulu,  harus disiplin, agar masih sempat sarapan, tapi kalau mau sarapan dulu, waktu main HP nya mungkin tidak cukup 15 menit, nanti dilanjutkan setelah latihan". Sejenak terdiam, akhirnya dia memilih opsi pertama. Alhamdulillah.




Jumat, 29 Maret 2019

Hari ke - 2 Tantangan 10H Level 1


Saat syauqi ingin makan dengan lauk abon kesukaannya, sementara abonnya tinggal sedikit, hanya cukup sekali makan. Biasanya jika makan dengan lauk ini, dia bisa nambah beberapa kali. Yang menarik adalah, saat makanannya habis dan minta nambah, dengan intonasi rendah, lembut dan ramah saya katakan :
"Nak, abonnya sudah habis". Spontan Syauqi cemberut, tanda-tanda akan marah. 

"Oki sayang, tadi waktu ke pasar, uang Umi tidak cukup untuk beli abon, karena harus beli yang lain" sambil saya sebutkan satu persatu.
"Insya Allah, pasar berikutnya kita beli lagi ya?

Akhirnya dia pun paham dan mau menerima, walau masih sedikit kesal. Padahal biasanya ia akan marah-marah dan membentak. Menjelang tidur dia mita dibuatkan telur dadar karena masih lapar.

Di hari kedua ini, perubahan yang saya rasakan adalah dengan menerapkan komunikasi produktif saya menjadi tidak gampang marah, walaupun lelah. Sehingga otak dapat berfikir mencari solusi dan jiwa pun terasa lebih lapang.

Sementara perubahan yang terjadi pada syauqi adalah dengan mendengar suara yang bersahabat dari Uminya, membuatnya dapat menahan amarahnya dan durasi marahnya lebih singkat.

Bahkan pagi tadi, dia sempat minta maaf ke Umi saat saya tegur untuk berkata sopan pada orang tua.
Alhamdulillah ala kulli hal, semoga bisa tetap istiqamah menerapkan komunikasi produktif.



Kamis, 28 Maret 2019

Tantangan 10 hari Level 1 Kelas Bunda Sayang


Memasuki tantangan 10 hari pada level 1 Kelas Bunda Sayang, dengan tugas mengaplikasikan "Komunikasi Produktif" pada pasangan atau anak.

Untuk tantangan pertama ini, saya memilih Syauqi (usia 5 tahun, sudah sekolah di TK) sebagai partner dalam mengaplikasikan komuniaksi produktif.  Mengapa memilih dia ? sementara masih ada dua anak lainnya ? Tentu ada pertimbangan tersendiri.

  • Syauqi bawaannya suka marah-marah, setelah dievaluasi ternyata penyebabnya dari cara saya, abah dan kakaknya dalam berkomunikasi.
  • Syauqi, jika menginginkan sesuatu, ingin serba cepat, tidak mau bersabar, jika tak segera dipenuhi, bawaannya akan marah-marah terus
Saya ingin sekali merubah perilaku negatif di atas dengan memperbaiki cara saya berkomunikasi dengannya. Point yang akan saya terapkan adalah :

  • Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
  • Katakan yang diinginkan bukan yang tidak diinginkan
  • Ganti perintah dengan pilihan
Untuk hari ini, saya mencoba menerapkan point pertama dan ketiga saat syauqi bangun di pagi hari. Biasanya di pagi hari ia lambat bangun, yang kadang membuat saya sering marah marah karena harus bergegas ke kantor. Tapi karena ingin menerapkan point 1, maka saya coba menahan emosi saat dia mulai "berulah". Bangun tidur, dia ingin minum madu, karena batuk dan pilek, tanpa sengaja madu saya tuang ke dalam gelas berisi air, padahal syauqi maunya minum madu tanpa dicampur air. Dia langsung nangis, minta ganti gelas. Dengan intonasi lembut saya berkata "iya, ummi ganti gelasnya", padahal biasanya saya akan emosi dan berkata " duhhhhh cerewetnya, ummi sudah mau ke kantor, nanti telat!. Kalau sudah berkata begitu, pasti Syauqi akan tambah nangis dan ngambek tak jadi minum madu. Tapi karena uminya gak marah, jadinya syauqi anteng aja. 
Begitu juga saat si putri bungsu cemberut, ngotot gak mau pindah dari pangkuanku, sementara kakaknya minta diambilkan sesuatu dan mulai terlihat tanda-tanda akan marah dan bersiap memukul si adik. Biasanya kalau sudah seperti ini, saya akan pusing dan ujung-ujungnya akan marah. Namun, dengan intonasi lembut dan ramah, saya coba bujuk si bungsu, beberapa kali, belum berhasil. Terakhir kalinya saya berkata ramah disertai pujian, akhirnya si bungsu tersenyum dan bergegas mengambilkan benda yang diinginkan si kakak. Ahhh, legaaaaa, hari ini bisa ramah. 

Trus, saat syauqi kembali "berulah" tak mau mandi, abah mulai tinggi intonasi suaranya. Segera aku berkata sambil tersenyum "abah, rendahkan intonasi suara". Eh, si abah tersenyum dan mulai lembut (soalnya dia dah baca materi komunikasi produktif yang saya forward).